Kekuatan sebuah brand atau merek adalah sesuatu yang sulit untuk dituliskan dalam pembukuan.

Meski demikian, sebuah merek yang mampu menggaet banyak konsumen dan tetap bertahan dalam kondisi perekonomian yang sedang tidak stabil akan dicap sebagai merek yang bisa memberikan nilai valuasi yang sangat besar.

Pada tahun 2020, Brand Finance merilis laporan tahunan mengenai merek-merek dunia yang mampu menduduki peringkat 500 besar.

Lalu apa sajakah merek-merek tersebut? Berikut ulasannya.

Brand Paling Bernilai dari Setiap Benua

Data 10 Besar Perusahaan Dengan Valuasi Pasar Terbesar di Dunia
Data 10 Besar Perusahaan Dengan Valuasi Pasar Terbesar di Dunia
Brand Nilai Brand 2020 Nilai Brand dalam Rupiah(Rp14,000/usd) Negara Sektor
Amazon $220B Rp 3,080 Triliun Rupiah United States Retail
Google $160B Rp 2,240 Triliun Rupiah United States Tech
Apple $140B Rp 1,960 Triliun Rupiah United States Tech
Microsoft $117B Rp 1,638 Triliun Rupiah United States Tech
Samsung $94B Rp 1,316 Triliun Rupiah South Korea Tech
ICBC $80B Rp 1,120 Triliun Rupiah China Banking
Facebook $79B Rp 1,106 Triliun Rupiah United States Media
Walmart $77B Rp 1,078 Triliun Rupiah United States Retail
Ping An $69B Rp 966 Triliun Rupiah China Insurance
Huawei $65B Rp 910 Triliun Rupiah China Tech
Mercedes-Benz $65B Rp 910 Triliun Rupiah Germany Automobiles
Verizon $63B Rp 882 Triliun Rupiah United States Telecoms
China Construction Bank $62B Rp 868 Triliun Rupiah China Banking
AT&T $59B Rp 826 Triliun Rupiah United States Telecoms
Toyota $58B Rp 812 Triliun Rupiah Japan Automobiles
State Grid $57B Rp 798 Triliun Rupiah China Utilities
Disney $56B Rp 784 Triliun Rupiah United States Media
Agricultural Bank of China $55B Rp 770 Triliun Rupiah China Banking
WeChat $54B Rp 756 Triliun Rupiah China Media
Bank of China $51B Rp 714 Triliun Rupiah China Banking
The Home Depot $50B Rp 700 Triliun Rupiah United States Retail
China Mobile $49B Rp 686 Triliun Rupiah China Telecoms
Shell $47B Rp 658 Triliun Rupiah Netherlands Oil & Gas
Saudi Aramco $47B Rp 658 Triliun Rupiah Saudi Arabia Oil & Gas
Volkswagen $45B Rp 630 Triliun Rupiah Germany Automobiles
YouTube $44B Rp 616 Triliun Rupiah United States Media
Tencent QQ $44B Rp 616 Triliun Rupiah China Media
Starbucks $41B Rp 574 Triliun Rupiah United States Restaurants
Wells Fargo $41B Rp 574 Triliun Rupiah United States Banking
BMW $40B Rp 560 Triliun Rupiah Germany Automobiles
Deutsche Telekom $40B Rp 560 Triliun Rupiah Germany Telecoms
Moutai $39B Rp 546 Triliun Rupiah Germany Spirits
PetroChina $38B Rp 532 Triliun Rupiah China Oil & Gas
Coca-Cola $38B Rp 532 Triliun Rupiah United States Soft Drinks
Mitsubishi Group $38B Rp 532 Triliun Rupiah Japan Automobiles
McDonald’s $37B Rp 518 Triliun Rupiah United States Restaurants
Taobao $37B Rp 518 Triliun Rupiah China Retail
NTT Group $36B Rp 504 Triliun Rupiah Japan Telecoms
Bank of America $35B Rp 490 Triliun Rupiah United States Banking
Nike $35B Rp 490 Triliun Rupiah United States Apparel
Porsche $33B Rp 462 Triliun Rupiah Germany Automobiles
Sinopec $33B Rp 462 Triliun Rupiah China Oil & Gas
IBM $33B Rp 462 Triliun Rupiah United States Tech
CITI $33B Rp 462 Triliun Rupiah United States Banking
Honda $33B Rp 462 Triliun Rupiah Japan Automobiles
Marlboro $33B Rp 462 Triliun Rupiah United States Tobacco
Deloitte $32B Rp 448 Triliun Rupiah United States Commercial Services
Chase $31B Rp 434 Triliun Rupiah United States Banking
Tmall $31B Rp 434 Triliun Rupiah China Retail
UPS $29B Rp 406 Triliun Rupiah United States Logistics
American Express $29B Rp 406 Triliun Rupiah United States Commercial Services
Xfinity $29B Rp 406 Triliun Rupiah United States Telecoms
United Healthcare $28B Rp 392 Triliun Rupiah United States Healthcare
Sumitomo Group $28B Rp 392 Triliun Rupiah Japan Mining, Iron & Steel
Intel $27B Rp 378 Triliun Rupiah United States Tech
VISA $27B Rp 378 Triliun Rupiah United States Commercial Services
Instagram $27B Rp 378 Triliun Rupiah United States Media
China Life $25B Rp 350 Triliun Rupiah China Insurance
Accenture $25B Rp 350 Triliun Rupiah United States IT Services
Allianz $25B Rp 350 Triliun Rupiah Germany Insurance
CSCEC $25B Rp 350 Triliun Rupiah China Engineering & Construction
PWC $25B Rp 350 Triliun Rupiah United States Commercial Services
Lowe’s $25B Rp 350 Triliun Rupiah United States Retail
Mitsui $24B Rp 336 Triliun Rupiah Japan Mining, Iron & Steel
General Electric $24B Rp 336 Triliun Rupiah United States Engineering & Construction
EY $24B Rp 336 Triliun Rupiah United Kingdom Commercial Services
Oracle $24B Rp 336 Triliun Rupiah United States Tech
Cisco $24B Rp 336 Triliun Rupiah United States Tech
BP $23B Rp 322 Triliun Rupiah United Kingdom Oil & Gas
CVS $23B Rp 322 Triliun Rupiah United Kingdom Retail
Total $23B Rp 322 Triliun Rupiah France Oil & Gas
FedEx $23B Rp 322 Triliun Rupiah United States Logistics
Netflix $23B Rp 322 Triliun Rupiah United States Media
China Merchants Bank $23B Rp 322 Triliun Rupiah China Banking
JP Morgan $23B Rp 322 Triliun Rupiah United States Banking
Boeing $23B Rp 322 Triliun Rupiah United States Aerospace & Defence
Costco $23B Rp 322 Triliun Rupiah United States Retail
SK Group $22B Rp 308 Triliun Rupiah South Korea Telecoms
Wuliangye $21B Rp 294 Triliun Rupiah China Spirits
Evergrande $21B Rp 294 Triliun Rupiah China Real Estate
Nestle $21B Rp 294 Triliun Rupiah Switzerland Food
Hyundai Group $21B Rp 294 Triliun Rupiah South Korea Automobiles
China Telecom $21B Rp 294 Triliun Rupiah China Telecoms
Siemens $21B Rp 294 Triliun Rupiah Germany Engineering & Construction
TATA Group $21B Rp 294 Triliun Rupiah India Engineering & Construction
Mastercard $21B Rp 294 Triliun Rupiah United States Commercial Services
Bosch $20B Rp 280 Triliun Rupiah Germany Engineering & Construction
IKEA $19B Rp 266 Triliun Rupiah Sweden Retail
HSBC $19B Rp 266 Triliun Rupiah United Kingdom Banking
Spectrum $19B Rp 266 Triliun Rupiah United States Telecoms
Vodafone $19B Rp 266 Triliun Rupiah United Kingdom Telecoms
Pepsi $19B Rp 266 Triliun Rupiah United States Soft Drinks
Alibaba $19B Rp 266 Triliun Rupiah China Retail
Ford $18B Rp 252 Triliun Rupiah United States Automobiles
AIA $18B Rp 252 Triliun Rupiah China Insurance
Orange $18B Rp 252 Triliun Rupiah France Telecoms
Nissan $18B Rp 252 Triliun Rupiah Japan Automobiles
Chevron $18B Rp 252 Triliun Rupiah United States Oil & Gas
GUCCI $18B Rp 252 Triliun Rupiah Italy Apparel
Dell Technologies $18B Rp 252 Triliun Rupiah United States Tech

Sejumlah merek yang berasal dari benua Amerika, atau lebih tepatnya Amerika Serikat mendominasi empat peringkat teratas brand paling bernilai di seluruh dunia, yakni Amazon, Google, Apple, dan Microsoft.

Sementara itu, beberapa nama dari Asia Timur seperti Samsung dari Korea Selatan dan ICBC serta Huawei dari China berhasil memecahkan rekor dengan menduduki peringkat sepuluh besar.

Meski mayoritas merek paling bernilai di dunia berasal dari Amerika Serikat dan China, brand apa saja yang memiliki nilai tertinggi dari setiap wilayah?

Daftar Brand dengan Nilai Termahal dari Amerika

Amazon

Jeff Bezos dan Amazon yang Bervaluasi US$220 Miliar
Jeff Bezos dan Amazon yang Bervaluasi US$220 Miliar

Berdasarkan laporan tahunan Brand Finance pada 2020, Amazon menempati peringkat pertama dengan nilai mencapai US$220 miliar atau melonjak hingga 18% dibandingkan tahun 2019.

Tentu banyak yang mempertanyakan, bagaimana Amazon bisa mendominasi merek dagang di seluruh dunia?

Sebagai pasar online terbesar di dunia, Amazon mengandalkan teknologi yang inovatif dan mengutamakan investasi dalam sektor-sektor yang memiliki pertumbuhan perekonomian paling cepat, seperti kesehatan.

Di samping itu, brand raksasa besutan Jeff Bezos ini selalu berusaha meningkatkan kinerja perusahaan secara cepat mengingat hampir seluruh penduduk dunia sudah akrab dengan dominasi perusahaan ritel berbasis online tersebut.

Google

Sergey Brin, Larry Page dan Google dengan Valuasi Senilai US$160 miliar
Sergey Brin, Larry Page dan Google dengan Valuasi Senilai US$160 miliar

Selanjutnya, posisi kedua diduduki oleh brand ternama dari sektor teknologi, Google. Merek yang satu ini mengalami pelonjakan sekitar 11,9% dari tahun lalu dengan nilai sebesar US$160 miliar.

Kenaikan nilai valuasi merek ini terbilang rendah jika dibandingkan tahun 2016, yakni mencapai 32%.

Meski hanya meningkat sekitar sebelas persen, Google masih mampu menduduki posisi kedua setelah sebelumnya berada di posisi ketiga dan mengalahkan perusahaan teknologi lainnya seperti Apple.

Google juga masih mendominasi sistem pencarian di seluruh dunia.

Seperti yang kita tahu, selain menjadi mesin pencarian paling populer saat ini, perusahaan multinasional yang didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin ini juga menciptakan sejumlah produk seperti perangkat lunak, komputasi berbasis web, surat elektronik, dan lain sebagainya.

Apple

Steve Jobs, Produk dan Brand Apple dengan Valuasi Senilai $140B
Steve Jobs, Produk dan Brand Apple dengan Valuasi Senilai $140B

Nilai valuasi Apple pada tahun 2020 merosot hingga mencapai 8,5% atau sekitar US$140 miliar, membuat perusahaan yang didirikan oleh Steve Jobs, Steve Wozniak, dan Ronald Wayne ini hanya mampu menempati posisi dibawah Google.

Meski berada di peringkat kedua, perusahaan multinasional yang berlokasi di Silicon Valley ini masih termasuk dalam jajaran merek termahal di dunia dengan staf mencapai sekitar 147.000 orang dan 510 retail di 25 negara.

Apple dikenal dengan produk-produk perangkat lunak seperti iOS, OS X, dan Safari (peramban web) serta perangkat keras seperti iPhone, iMAC, MacBook, AirPod, dan masih banyak lagi.

Meski banyak sekali produk yang diluncurkan, ciri khas dari perusahaan ini adalah ponsel pintarnya yang didapuk memiliki kualitas tinggi, desain mewah, dan dengan harga yang tentunya juga sangat tinggi.

Facebook

Mark Zuckerberg dan Facebook dengan Nilai Valuasi Sebesar $79B
Mark Zuckerberg dan Facebook dengan Nilai Valuasi Sebesar $79B

Facebook merupakan satu-satunya perusahaan yang bergerak di bidang jejaring sosial yang mampu masuk dalam daftar sepuluh merek dengan nilai tertinggi versi Brand Finance.

Akan tetapi, tercatat bahwa perusahaan besutan Mark Zuckerberg ini mengalami penurunan sebesar 4,1%.

Meski WhatsApp dan Instagram sudah bergabung dengan Facebook, banyak yang menganggap bahwa keduanya adalah dua hal yang terpisah dan tidak bisa dimasukkan ke dalam nilai brand Facebook.

Meski hanya menempati peringkat ketujuh, nilai pasar perusahaan ini masih mencapai US$79 miliar.

Besarnya valuasi Facebook menandakan betapa populernya sebuah perusahaan yang berada di sektor internet atau lebih tepatnya sosial media.

Hingga hari ini, Facebook berhasil mendapatkan keuntungan kotor sebesar US$86 miliar berkat iklan digitalnya.

Walmart

Sam Walton dan Walmartnya dengan Nilai Valuasi Sebesar $77B
Sam Walton dan Walmartnya dengan Nilai Valuasi Sebesar $77B

Selanjutnya, posisi kedua diduduki oleh brand ternama dari sektor teknologi, Google. Merek yang satu ini mengalami pelonjakan sekitar 11,9% dari tahun lalu dengan nilai sebesar US$160 miliar.

Selain itu, Walmart, raksasa retail dari Amerika juga berhasil memasuki daftar sepuluh besar merek dengan nilai tertinggi tahun lalu dengan kenaikan sebesar 14%.

Keberhasilan perusahaan multinasional ini tidak lepas dari strategi yang mereka terapkan, yakni membangun kemitraan dengan Microsoft.

Dengan memanfaatkan layanan cloud milik Microsoft, kini perusahaan retail tersebut mampu memberikan layanan digital bagi pelanggannya.

Untuk mencapai titik ini, Walmart memiliki rekam jejak yang cukup panjang dengan berbagai hambatan.

Walmart sendiri berdiri sejak tahun 1950 dalam bentuk toko kelontong.

Toko yang awalnya bernama Walton’s tersebut terus berkembang hingga memiliki lebih dari 24 cabang toko.

Pada tahun 1970, Walmart resmi menjadi perusahaan dan hingga kini ada sekitar 4.756 cabang di seluruh Amerika Serikat.

Tesla

Elon Musk dan Tesla dengan Nilai Valuasinya yang Mencapai US$12,4 miliar
Elon Musk dan Tesla dengan Nilai Valuasinya yang Mencapai US$12,4 miliar

Selanjutnya, posisi kedua diduduki oleh brand ternama dari sektor teknologi, Google. Merek yang satu ini mengalami pelonjakan sekitar 11,9% dari tahun lalu dengan nilai sebesar US$160 miliar.

Dengan peningkatan nilai sebesar 65% atau US$12,4 miliar, Tesla resmi menjadi merek dengan pertumbuhan paling cepat di seluruh dunia.

Meski ada kekhawatiran jika perusahaan yang didirikan oleh Elon Musk ini tidak mampu memenuhi permintaan pasar, Tesla berhasil menjual sekitar 499.550 mobil listrik.

Tahun lalu, Tesla melaporkan keuntungan bersih sebesar US$721 juta dari penjualan sekitar US$31,5 miliar.

Perusahaan ini kini telah merilis beberapa model kendaraan bertenaga elektrik, seperti roadster, sedan, crossover, dan bahkan kendaraan besar seperti truk.

Brand dengan Nilai Termahal dari Asia

Samsung

Pendiri, Para CEO dan Nilai Valuasi Perusahaan Samsung Senilai $94B
Pendiri, Para CEO dan Nilai Valuasi Perusahaan Samsung Senilai $94B

Di kelas ponsel pintar, merek asal Korea Selatan ini mungkin lebih dikenal luas sebagai merek saingan Apple.

Padahal produk-produk yang dirilis oleh perusahaan yang bergerak di sektor teknologi ini sangat beragam, seperti televisi, AC, kulkas, dan perlengkapan rumah tangga lainnya.

Konsultan penilaian merek independen yang berlokasi di London, Brand Finance, melaporkan bahwa Samsung merupakan merek utama dari Korea Selatan yang mampu memasuki daftar lima besar brand dengan nilai valuasi tertinggi di seluruh dunia.

Nilai perusahaan yang bermarkas di Seoul tersebut mencapai US$94 miliar dengan kenaikan 3,5% dari tahun sebelumnya.

Hingga kini, Samsung Electronics melaporkan hasil penjualan dari kuartal keempat tahun 2020, dengan keuntungan meningkat sebesar 2,78% dari US$32.1 miliar.

ICBC

Founder, CEO ICBC dan Nilai Valuasi ICBC Senilai $80B
Founder, CEO ICBC dan Nilai Valuasi ICBC Senilai $80B

Industrial and Commercial Bank of China atau yang disingkat dengan sebutan ICBC merupakan perusahaan asal negeri tirai bambu yang bergerak di sektor perbankan.

Bank yang satu ini memiliki nilai aset terbesar di seluruh dunia, mencapai US$4 triliun dan telah mempekerjakan hampir setengah juta karyawan.

Sementara itu, nilai dagang ICBC mencatat angka US$80 miliar, naik sekitar 1,2% dari tahun 2019.

Hal ini membuat ICBC menjadi satu-satunya bank yang mampu menduduki peringkat keenam dalam daftar perusahaan dengan nilai brand tertinggi.

Dikutip Forbes, ICBC berhasil menyandang gelar sebagai perusahaan terbesar selama tujuh tahun.

Perusahaan yang dibangun pada awal Januari 1984 dan berpusat di Beijing, China ini tidak hanya bergerak di sektor perbankan komersial saja, namun juga bidang jasa finansial lainnya.

Fokus dari perusahaan ini antara lain ada di sektor komersial, korporasi, dan sebagainya.

Di bidang korporasi, ICBC menawarkan sejumlah layanan seperti pinjaman korporasi, pengelolaan aset perusahaan, layanan keuangan antar perusahaan, pembiayaan perdagangan, dan kegiatan penyimpanan kekayaan.

Sementara di sektor perbankan personal, ICBC menawarkan beberapa layanan seperti pengambilan tabungan, pinjaman pribadi, pengaturan kekayaan pribadi, dan sebagainya.

Sedangkan pada bidang perbendaharaan, perusahaan ini melibatkan sejumlah kegiatan seperti sekuritas investasi, transaksi pasar uang, dan valuta asing.

Huawei

Ren Zhengfei dan Huawei dengan Nilai Valuasinya Senilai $65B
Ren Zhengfei sebagai CEO, Founder dan Huawei dengan Nilai Valuasinya Senilai $65B

Dalam laporan yang baru saja dirilis oleh Brand Finance, Huawei merupakan raksasa teknologi dari China yang memasuki jajaran 500 merek dengan nilai pasar paling tinggi di seluruh dunia.

Perusahaan ketiga dari China yang berhasil masuk daftar tersebut memiliki nilai valuasi sekitar US$65 miliar, meningkat sebesar 4,5% dari tahun 2019.

Brand Finance menyatakan bahwa teknologi 5G merupakan kesempatan emas bagi perusahaan telekomunikasi untuk memasuki persaingan yang sengit.

Terlebih lagi, kini Huawei sudah mulai merambah ke pasar yang sebelumnya didominasi oleh merek-merek dari Amerika.

Meski pada tahun 2019 Donald Trump mengumumkan bahwa Huawei dan beberapa perusahaan asal China lainnya dilarang untuk beroperasi di Amerika Serikat, raksasa asal China ini tidak berhenti untuk menciptakan inovasi-inovasi baru. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya nilai valuasi Huawei.

Meningkatnya nilai dagang tersebut bisa dihubungkan dengan komitmen Huawei untuk terus menciptakan produk-produk elektronik dengan kemampuan mutakhir.

Hal ini bertujuan untuk terus meningkatkan daya saing dari setiap produk dan juga kualitas pengalaman pengguna.

Toyota

Kiichiro Toyoda - Toyota Founder, Akio Toyoda - Toyota CEO, Produk-Produk Toyota dan Nil
Kiichiro Toyoda – Toyota Founder, Akio Toyoda – Toyota CEO, Produk-Produk Toyota dan Nilai Valuasi Toyota Senilai $58B

Toyota merupakan satu-satunya perusahaan otomotif asal negeri matahari terbit yang terdaftar sebagai perusahaan dengan nilai valuasi terbesar setelah Mercedes-Benz yang berasal dari Jerman.

Data yang dirilis mencatat nilai brand Toyota adalah sekitar US$58 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 11,1%.

Meski dikabarkan nilai valuasi ini tidak jauh lebih besar dari Tesla, bos Toyota mengatakan produk pabrikan dari Jepang merupakan pembuat kendaraan beroda empat yang sesungguhnya.

Dilansir dari Bloomberg, Tesla mampu menjual sekitar 499.550 kendaraan, sekitar 3 persen dari hampir 11 juta unit yang dipasarkan oleh Toyota tahun lalu.

Meski kalah dalam harga saham, Toyota tetap tidak mau kalah dalam mengeluarkan kendaraan listrik.

Sejak Mei tahun lalu, Toyota bekerja sama dengan BYD Auto dari China untuk mengembangkan mobil bertenaga listrik yang rencananya siap dipasarkan pada 2025.

Saudi Aramco

Amin H. Nasser - Saudi Aramco CEO dan Nilai Perusahaan Saudi Aramco Sebesar $47B
Amin H. Nasser – Saudi Aramco CEO dan Nilai Perusahaan Saudi Aramco Sebesar $47B

Mayoritas perusahaan yang berasal dari kawasan Asia dan berhasil menduduki posisi brand paling berharga di seluruh dunia adalah perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi.

Tidak heran jika Perusahaan Minyak Arab Saudi atau Saudi Aramco menjadi produsen minyak terbesar dari Asia yang masuk dalam daftar 25 besar merek dunia dengan nilai paling tinggi.

Di tahun 2019, Saudi Aramco secara resmi merilis laporan keuangan mereka.

Brand Finance tidak mencantumkan berapa besar peningkatan valuasi perusahaan minyak dan gas ini, namun diperkirakan nilainya menyentuh angka 47 miliar dollar Amerika.

Perusahaan minyak dan gas Arab Saudi bisa dibilang sudah melampaui hampir semua harapan dengan dirilisnya nilai saham pertama mereka.

Bahkan Penawaran Saham Perdana mereka dianggap sebagai salah satu IPO yang paling sukses di sepanjang sejarah.

Perusahaan ini kabarnya ingin fokus menjadi perusahaan terbesar yang bergerak dalam bidang produksi gas dan minyak.

Hal ini didukung dengan beberapa cabang dan juga anak perusahaan yang tersebar di sejumlah negara seperti Uni Emirat Arab, Jepang, Cina, Britania Raya, Amerika Serikat, dan Rusia.

Brand dengan Nilai Termahal dari Eropa

Mercedes-Benz

Karl Benz - Mercedez Benz Founder, Ola Källenius - Mercedez Benz CEO dan Nilai Valuasi Mercedez Benz Senilai $65B
Karl Benz – Mercedez Benz Founder, Ola Källenius – Mercedez Benz CEO dan Nilai Valuasi Mercedez Benz Senilai $65B

Mercedes-Benz merupakan satu-satunya perusahaan asal Eropa, atau lebih tepatnya dari Jerman yang meraih peringkat kesebelas dalam daftar merek paling ternama dan termahal berdasarkan laporan tahunan Brand Finance.

Dengan nilai merek yang meningkat pada angka 65 miliar dollar Amerika, atau peningkatan sebesar 7,8%, Mercedes-Benz menjadi salah satu brand kendaraan premium yang paling mahal di dunia.

Sejak 2009, nilai valuasi Mercedes-Benz memang terus mengalami peningkatan. Hal ini tidak luput dari tradisi panjang mereka, dan juga inovasi serta tekad untuk terus menciptakan produk-produk terbaik.

Tidak hanya sebagai perusahaan pembuat kendaraan mewah, Mercedes-Benz merupakan jawaban yang tepat bagi mobilitas para konsumen setia mereka.

Royal Dutch Shell

Marcus Samuel - Shell Founder, Ben van Beurden - Shell CEO dan Valuasi Perusahaan Shell Sebesar $47B
Marcus Samuel – Shell Founder, Ben van Beurden – Shell CEO dan Valuasi Perusahaan Shell Sebesar $47B

Perusahaan yang berasal dari Belanda ini bergerak di bidang minyak bumi dan gas alam.

Saat ini, Shell merupakan satu-satunya perusahaan dari negara kincir angin yang memiliki nilai merek dagang tertinggi, yakni US$47 miliar (meningkat sebesar 12,4 persen dari tahun sebelumnya).

Dalam prakteknya, mereka menjalankan kegiatan seperti eksplorasi sumber minyak dan gas, memproduksi, memurnikan, dan memasarkannya di hampir seluruh negara di dunia.

Di samping itu, mereka juga memproduksi bahan-bahan kimia yang digunakan sebagai material utama di berbagai sektor industri.

Kini, Shell menjadi salah satu perusahaan terkemuka yang bergerak di bidang energi.

Berpusat di Den Haag, Belanda, perusahaan ini mempekerjakan lebih dari 93.000 staf yang tersebar di hampir 70 negara.

Nestle

Hendri Nestle - Nestle Founder, Ulf Mark Schneider - Nestle CEO dan Valuasi Nestle Sebesar $21B
Hendri Nestle – Nestle Founder, Ulf Mark Schneider – Nestle CEO dan Valuasi Nestle Sebesar $21B

Berdiri sejak tahun 1866, kini Nestle telah berkembang menjadi perusahaan raksasa yang bergerak di bidang produksi bahan pangan, dan sudah tersebar di lebih dari 200 negara.

Nestle merupakan satu-satunya perusahaan asal Swiss yang memiliki valuasi merek sebesar 21 miliar dollar Amerika atau mengalami peningkatan sebesar 3,4% dari tahun sebelumnya.

Hingga saat ini, Nestle memproduksi serta mendistribusikan lebih dari 2.000 merek dengan berbagai jenis produk, seperti kopi, air mineral, susu dan jenis minuman lainnya, sereal, makanan bayi, makanan hewan, dan masih banyak lagi.

Nestle juga tercatat mempekerjakan lebih dari 320.000 karyawan dan cabang perusahaan yang beroperasi di 187 negara. 29% berada di Eropa, 33,7% di Amerika, dan 37,45% di Afrika, Asia, serta sejumlah negara di Oseania.

Merek-merek yang Mengalami Penurunan Valuasi

Merek dagang merupakan sesuatu yang akan selalu mengalami fluktuasi.

Seperti perusahaan mesin pencarian asal China misalnya, Baidu dilaporkan mengalami penurunan nilai merek hingga 8,9 miliar dollar Amerika atau sebesar 54%.

Baidu memang sudah lama memiliki reputasi yang buruk di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.

Selain itu, Boeing juga termasuk contoh utama yang mengalami penurunan nilai secara drastis, yakni sebesar 29% akibat banyaknya kecelakaan pesawat yang mencoreng reputasi mereka.

Merek adalah bagian dari strategi promosi yang digunakan untuk mempertahankan reputasi sebuah perusahaan dan juga bisa membuat para konsumen tetap setia menggunakan produk maupun jasa yang ditawarkan.

Karena itulah, menurun atau meningkatnya nilai merek akan sangat berdampak pada perkembangan perusahaan.

Tidak heran, berbagai perusahaan berjuang mati-matian untuk meningkatkan, atau minimal mempertahankan nilai brand mereka di pasar internasional.

Sumber: visualcapitalist.com